5 cm
Setelah sekian lama, akhirnya saya nonton 5 cm juga!
Terkadang suka gak rela kalo nonton film yang diangkat dari buku yang sudah saya baca. Soalnya akan ‘agak’ merusak imajinasi saya soal tokoh di buku itu. Tapi…penasaran juga sih! Oke, saya akan tulis sedikit kesan saya tentang film ini.
Sejauh ini saya suka sama filmnya. Keren! Tokoh-tokohnya juga pas. Apalagi Igor Saykoji yang berperan jadi Ian! Itu pas banget! Hmm… Mungkin tokoh Riani dan Genta yang sedikit di luar ekspektasi saya.
Dialog lucunya Ian dan ke-sok-puitisannya Zafran, kena banget di film ini. Tapi sayang, dialog kecil yang justru saya suka tidak ada. Seperti dialog Ian dengan dosen pembimbingnya, dialog Zafran dan Genta soal Goa Plato, dan dialog dengan supir angkot yang seorang Aremania yang mengatar mereka dari stasiun kereta api.
Tapi……pemandangan indah yang diberikan benar-benar bikin film ini makin keren. Membuat saya terkagum-kagum dan makin ngebet buat naik gunung! Dan tentunya, lewat film ini saya makin bangga terlahir di Indonesia dan menjadi salah satu ‘anaknya’. Oh tentu, makna 5 cm itu selalu saya ingat dan saya terapkan. 5 cm di depan kening 🙂
Nah, ini dialog kecil Ian dengan dosen pembimbingnya yang selalu saya suka:
Dosen: “Kalo Intrapersonal skills?” Ian: “Kemampuan manusia untuk mengerti dan mengendalikan emosi yang lagi ada dalam dirinya. Kalo tadi Interpesonal keluar dari diri, yang sekarang intra, ke dalam diri sendiri. Contohnya, nggak langsung down kalo lagi ada masalah, selalu bersemangat, tekun, kalo lagi ada masalah langsung bangkit bukannya malah tenggelam dalam pikiran negatif, selalu bangkit lagi, nggak pernah nyerah kalo ada masalah, nggak pernah nyerah kalo nemuin hambatan, Pak! Nggak pernah nye...” Dosen: “Nggak pernah apa, Ian?” Ian: “Nggak pernah nyerah, Pak.” Dosen: “Apa...?” Ian: “Nggak... pernah... nyerah... Pak...”
Tentunya masih banyak dialog yang penuh dengan inspirasi dibaliknya dalam buku ataupun film ini. Well, thanks for the movie Rizal Mantovani and thanks for the novel, mas Donny Dhirgantoro!
PS: Film ini mengingatkan saya akan kegiatan Nurani 2012 di Lannying, Bantaeng, beberapa minggu yang lalu. Sungguh, keindahannya membuat saya ingin kembali kesana…
