Beberapa Cerita yang Terlewatkan
Bikin blog itu gampang. Kemampuan untuk konsisten menulisnya yang susah. <— Catatan untuk diri sendiri.
Udah lama banget gak cerita disini. Hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan, banyak hal yang saya alami dan ya, belum saya ceritakan disini.
Beberapa bulan yang lalu saya sudah resmi melepaskan seragam putih-abu saya. Tentu 3 tahun menggunakan seragam itu bukanlah waktu yang singkat. Belum lagi dengan berbagai memori yang ada. Bukan juga waktu yang mudah untuk untuk melepas sahabat-sahabat saya di SMA dan kembali memulai dari awal.
Saya terbiasa bersama mereka sejak kelas X. Mulai dari MOPD hingga penerimaan ijazah, saya lakukan bersama mereka. Unggulan 1. Mereka bagian terbaik yang saya dapatkan di masa putih-abu.
Alhamdulillah. Setelah gagal di SNMPTN Undangan, menolak beasiswa di Paramadina (karena jurusan tidak sesuai), dan setelah merelakan waktu liburan hampir 1 bulan untuk bimbingan, saya lulus di SNMPTN Tertulis. Allah memang begitu baik dengan saya. Sungguh, saya makin merasakan firman Allah, Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” benar adanya.
Ya, saya resmi menjadi Mahasiswi Universitas Hasanuddin Makassar, jurusan Ilmu Komunikasi. Kampus merah istilahnya. Tentu dengan almamater yang juga berwarna merah.
Memutuskan untuk memilih jurusan ini juga bukan hal yang mudah. Ummi, dari dulu, selalu berharap anaknya ini menjadi dokter. Tidak dipungkiri, saya pun sempat memimpikan hal itu. Dokter anak.
Namun makin lama, saya temukan apa yang saya suka. Suatu hal yang bila saya lakukan walaupun dalam jangka waktu yang panjang, tidak membuat saya lantas bosan. Ya, menulis. Dan saya memutuskan, untuk kali ini, dengan hormat dan penuh kerendahan hati, tidak menuruti kata-kata beliau. Semoga beliau tetap ridha dengan pilihan saya.
Saya hanya merasa, dengan memilih jurusan ini, saya semakin dekat dengan hal yang saya suka. Saya suka menulis. Saya senang merantai kata-kata menjadi kalimat yang penuh makna. Sayang, membuat kalimat yang penuh makna bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Saya masih harus banyak belajar hal tersebut.
Itulah beberapa hal terbesar yang terjadi beberapa waktu ini. Saat ini, saya hanya mempersiapkan diri untuk tinggal jauh dari orang tua, jauh dari sahabat-sahabat saya, dan tentu, jauh dari dia.
Ya dia. Lelaki yang lebih dari 2 tahun ini bersama saya. Terkadang, memikirkan jarak yang jauh ini membuat dada saya terasa sesak. Tapi saya yakin, dia akan mendukung saya dimanapun dan bagaimanapun keadaan saya. Jarak tentu bukan menjadi penghalang untuk saya terus mendukung dia. Begitupun sebaliknya. Diatas segalanya, satu yang saya pegang. Saya percaya dia.
Hei kamu. Jarak jauh bukan masalah untuk kita kan? Toh ketika saya menyadari saya masih menginjak bumi yang sama denganmu, menyadari bahwa saya memandang langit yang sama denganmu, bahkan menyadari udara yang kau hirup sama denganku, membuat saya merasa tetap dekat denganmu.
You won’t leave me, right, Preschian?