Bersyukur dan Bahagia
Tiga minggu terakhir ini terasa begitu melelahkan. Berbagai kegiatan, tugas, bahkan ujian senantiasa menyapa saya. Lagi-lagi ruang untuk saya latihan menulis kembali dipenuhi dengan debu.
Jika ada yang bertanya bagaimana tiga minggu ini, saya akan jawab menyenangkan. Mengeluh karena kesibukan bukan hal yang baik kan? Jadi saya memutuskan untuk melihat kesibukan ini dari sisi yang lain.
Tanggal 10-12 Mei lalu saya mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Biro Baruga Kosmik. Pelatihan ini akrab disebut Timeliness. Selama tiga hari saya kembali belajar untuk membiasakan diri dengan dunia junalistik. Belajar menulis berita, belajar bersahabat dengan deadline.
Bila pelatihan lalu membuat saya bisa ke Pasar Sentral Makassar untuk pertama kalinya, Timeliness membuat kaki ini bisa berpijak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Tempat yang mungkin akan dihindari oleh sebagian orang karena penuh dengan sampah dan bau tidak sedap yang begitu menyengat.
Selama di TPA, saya ditemani dengan dua anak kecil yang begitu ramah. Mereka berjalan di samping saya dan dengan riang bercerita mengenai TPA yang merupakan tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya. Bibir mereka tidak berhenti berceloteh. Berbagai hal mereka ceritakan. Mulai dari apa yang terjadi di TPA, kehidupan mereka, hingga cita-citanya.
Senyum dan tawa lepas senantiasa hadir di wajah anak-anak itu. Tidak ada rasa malu karena badan mereka kotor, tidak ada rasa sedih karena tidak memiliki mainan baru. Bagi anak-anak tersebut, bermain adalah memulung bersama teman-teman.
Saya kembali belajar dari tempat ini. Bahagia tidak melulu hadir karena uang. Bahagia itu sederhana. Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, melainkan bersyukur yang membuat kita bahagia.