Dua minggu yang lalu (6-7/4), saya dan beberapa anak Kosmik lainnya melakukan pendakian ke puncak gunung Bulusaraung, Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep. Ada tujuh belas orang yang ikut serta dalam pendakian ini, enam orang perempuan dan sebelas orang laki-laki. Dari angkatan saya sendiri ada enam orang, Manda, Lia, Rasti, Abang, Aslam, dan saya sendiri.

Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti kegiatan Green Communication Club (GCC). Sebelumnya, saya tidak bisa ikut ke Ramma karena sedang mengikuti Dikdas Jurnalistik (I should be going to Ramma, next time).

Perjalanan ini dimulai dari Koridor Kosmik, tepat pukul 13.15 WITA. Perjalanan Makassar – Pangkep menghabiskan waktu selama hampir tiga jam. Sayangnya, miss communication yang terjadi saat perjalanan membuat kami membuang waktu hampir dua jam, karena ternyata saling menunggu satu sama lain di tempat yang berbeda. Selain itu, hujan deras juga sempat turun beberapa kali dan memaksa kami untuk berteduh.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, kami pun tiba di pos nol, pos awal untuk melakukan pendakian. Saat tiba di sana, kami lagi-lagi dihadapkan dengan beberapa kendala. Hujan yang turun tadi membuat jalur pendakian menjadi sangat licin, belum lagi alat penerangan yang dibawa ternyata kurang. Namun dengan berbagai pertimbangan dan semangat yang ada, kami memutuskan untuk tetap mendaki. Akhrirnya pendakian baru dilakukan pukul 19.40 WITA.

Jalur pendakian Bulusaraung bukan jalur yang mudah. Hampir 95% jalur pendakian adalah tanjakan yang curam. Udara yang mulai dingin, pencahayaan yang kurang, dan jalan yang licin akibat hujan, membuat pendakian terasa begitu sulit, terutama bagi saya yang baru pertama kali mendaki. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat tubuh saya terbiasa dengan jalur pendakian. Saya harus betul-betul bersahabat dengan tanjakan.

Sepuluh pos adalah jumlah yang harus dilewati untuk mencapai puncak Bulusaraung. jarak antar pos sebenarnya tidaklah jauh, hanya saja jalur yang berat dan penuh tanjakan membuat jarak terasa semakin jauh. Pukul 22.45 WITA kami semua tiba di pos sembilan untuk mendirikan tenda. Karena sudah terlalu larut, akhirnya diputuskan untuk pergi ke puncak Bulusaraung pada pagi hari.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Pagi hari, pukul 06.30 WITA, ketika yang lain masih asik tidur, saya, Manda, Lia, Rasti, Kak Jung, Kak Iki, dan Kak Faris memutuskan untuk pergi ke puncak Bulusaraung. Jarak dari pos sembilan menuju puncak tidak terlalu jauh. Namun lagi-lagi, tanjakan yang lebih curam lagi harus kami lewati. Akhirnya, kami pun tiba di puncak Bulusaraung tepat pukul 07.00 WITA.

Saya benar-benar tidak bisa menjelaskan pemandangan yang ada di puncak gunung Bulusaraung. Subhanallah adalah kata yang terus keluar dari bibir saya. Badan yang capek, kaki yang pegal, dan perasaan letih pun tiba-tiba meluap entah kemana. Puncak ini adalah balasan yang setimpal dengan berbagai hal yang harus dilewati sebelumnya.

Angin yang semakin kencang memaksa kami harus meninggalkan puncak Bulusaraung. Rasanya tidak rela harus kembali ke tenda. Tapi mau diapa, memang kami harus kembali turun. Setibanya di tenda, kami pun bersih-bersih dan memasak untuk sarapan.

Rencana awalnya, kami akan akan turun pada pukul 13.00 WITA. Namun tiba-tiba hujan turun sangat deras dan membuat jadwal menjadi mundur. Kami baru turun pada pukul 16.15 WITA.

Jika tanjakan adalah sahabat kami saat naik, maka turunan menjadi penggantinya ketika kami pulang. Namun hal ini tidak membuat jalur pulang menjadi lebih mudah. Hujan membuat jalur menjadi semakin licin. Perjalanan pulang ini juga membuat kami terheran-heran dengan jalur yang dilewati. Kami semua merasa tidak yakin bahwa jalur inilah yang dilewati saat mendaki. Jalur yang ada benar-benar terasa sulit, berbahaya, dan terlihat jelas sangat curam. Tapi ternyata memang jalur itulah yang kami lewati sebelumnya pada malam hari.

Hal ini membuat saya mendapat suatu pelajaran. Ketika ada suatu hal yang kita inginkan, maka fokuslah pada tujuan itu. Karena ketika kita terlalu memikirkan berbagai hal negatif yang ada, “bagaimana kalo begini,” “nanti jadi seperti ini”, dll, kita akan menjadi pesimis dan merasa tidak mampu. Dan ketika kita sendiri sudah merasa tidak mampu, maka yakinlah, kita tidak akan mencapai apa yang kita inginkan.

Kami pun tiba di pos awal tepat ketika adzan maghrib berkumandang. Setelah bersih-bersih dan istirahat cukup lama, kami semua kembali ke Makassar pada pukul 19.30 WITA

Pendakian ini adalah pendakian pertama saya dan puncak gunung Bulusaraung adalah puncak pertama saya. Saya sangat senang bisa memiliki pengalaman ini, pengalaman yang penuh dengan berbagai pelajaran hidup. Terimakasih Bulusaraung. Sampai bertemu lagi.

Untitled-1 copy