Dikdas Jurnalistik
Hari Jumat lalu (15/3), saya dan beberapa anak Kosmik mengikuti Diklat Dasar Jurnalistik yang diadakan oleh Penerbitan Kampus Identitas Unhas. Acara ini berlangsung selama tiga hari di LEC Athira, Bukit Baruga, Antang. Ya, tempat yang sama seperti FIGUR 2012.
Sehari sebelum acara saya dan yang lain sempat dilema, karena ternyata beberapa anak Kosmik yang lain akan pergi mendaki ke Ramma’. Saya yang sebelumnya belum pernah mendaki menjadi tergiur untuk ikut. Tapi kemudian saya berpikir, pendakian ke Ramma’ mungkin akan dilakukan lagi lain waktu, dan lagi saya mengetahui info itu setelah saya mendaftar untuk pelatihan, selain sayang dengan uang yang telah dikeluarkan, saya pikir akan ada lagi kesempatan untuk mendaki ke Ramma’.
Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari. Semua pemateri adalah orang-orang yang ahli di bidang jurnalistik, baik dari media televisi, cetak, atapun online. Mulai dari wartawan senior, penulis sastra, hingga fotografer.
Ingat kasus seorang wartawan Makassar yang hampir dipenjara karena melakukan aksi saat tahun 2009? Wartawan itu bernama Upi Asmaradana. Beliau adalah fasilitator pelatihan ini. Dan kejutan lainnya, dia juga anak Kosmik! 🙂
Pelatihan ini membuat saya menjadi benar-benar mengerti bahwa menjadi seorang jurnalis bukanlah hal yang mudah. Tapi pelatihan ini juga membuat saya menjadi semakin bersemangat ingin menjadi seorang jurnalis.
Materi yang disampaikan pada pelatihan ini begitu banyak. Tidak hanya materi, praktek langsung pun juga dilakukan. Para peserta dilakukan layaknya seorang wartawan sesungguhnya. Di sini kami diajarkan betapa berharganya waktu. Deadline. Kata dan situasi yang akan sering kami alami bila menjadi jurnalis kelak.
Di hari ketiga pelatihan, para peserta turun langsung ke lapangan untuk melakukan liputan. Setiap kelompok mendapat tempat liputan yang berbeda. Mulai dari Benteng Rotterdam, Pantai Losari, hingga Porlestabes. Kebetulan saya yang bergabung di kelompok 6, kelompok Kampusiana, berkesempatan melakukan liputan di Pasar Sentral. Ini hal menyenangkan buat saya. Apalagi ini kali pertama saya ke tempat ini. Hehehe…
Di akhir pelatihan, panitia mengumumkan kelompok dan peserta terbaik. Walaupun kelompok dan nama saya tidak termasuk di dalam daftar tersebut, saya tetap senang karena bisa berkesempatan mengikuti pelatihan ini. Teman baru, pengalaman baru, dan semangat baru untuk menjadi seorang jurnalis.
Jurnalis bekerja untuk kepentingan masyarakat. Mereka memiliki fungsi untuk memberitahu masyarakat agar yang tidak tahu menjadi tahu, mendidik masyarakat dengan berita yang dibuatnya, menghibur masyarakat, serta sebagai kontrol sosial dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
Menjadi seorang jurnalis membuat kita menjadi lebih peka terhadap masalah-masalah yang ada, khususnya masalah yang menyangkut rakyat kecil. Memberitakan kebenaran memang tugas utama seorang jurnalis. Profesi ini memikul tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab sosial. Profesi abadi adalah istilah pekerjaan mereka. Tidak pernah ada istilah pensiun bagi seorang jurnalis. Tidak pernah ada kata berhenti untuk mengungkap kebenaran. Benar adalah benar, salah adalah salah. See the truth, tell the truth.
Mengutip perkataan Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, “Lebih baik hidup terasing, daripada mati dalam kemunafikan,” adalah kutipan yang pas bagi para jurnalis.
Jadi mari berusaha dan terus berdoa agar kelak salah satu mimpi saya ini dapat terwujud. Ya. Menjadi seorang jurnalis.
PS: Makasih buat Rina yang dengan sukarela membawakan teman-temannya martabak dan terang bulan. Semoga hubunganmu dengan si kakak juga menjadi terang ya. Hehehe…
