Setelah hampir dua bulan lebih di Cibinong, saya pun harus kembali ke Makassar. Kembali dengan rutinitas kuliah, kembali LDR. Ehem. Saya pulang hari Rabu (21/8). Iya, lusa. *masih belum rela*

Sebelum kembali ke kampung halaman rasa rantauan, saya dan Preschian pun janjian untuk main. Karena bosan dengan mall dan sejenisnya, kami pun memutuskan untuk pergi ke Dufan.

Kami pergi ke sana menggunakan Commuter Line. Semenjak kereta yang satu ini turun harga, agaknya penumpang pun semakin banyak. Jangan tanya sebanyak apa yang naik. Saya dan Preschian baru bisa duduk saat di dua stasiun akhir. Walaupun begitu melelahkan, saya benar-benar menikmati perjalanan ini. (I really like the way you protected me. Hehehe…)

Oh iya. Karena pergi di hari Senin, Dufan bisa dibilang sepi. Bila saat weekend bisa mengantri lebih dari satu jam untuk satu wahana, maka hari itu rasanya tidak ada antrian sama sekali. Wuhuuuuu. Setibanya di sana, perasaan sok berani pun keluar. Tanpa ba-bi-bu, kami langsung naik Kora-Kora dan duduk paling belakang.

Setelah menghinakan Kora-Kora, lanjut dengan naik yang Bianglala yang agak santai. Kemudian naik Halilintar, Teater Simulator, Hysteria, Tornado, dan terakhir Istana Boneka. Jangan tanya soal tinggi minimal naik wahana Tornado, dkk. Memang tinggi saya belum cukup, tapi masih bisa di-tolerir kok. :p

It was fun! Kecuali bagian saya sempet muntah setelah naik Tornado dan dibilang Preschian payah (padahal dia sendiri sempet gak mau naik Tornado loh). Makasih buat kamu yang saya buat pegel kakinya. Makasih karena bersedia meluangkan waktunya untuk main sama saya seharian. 🙂

Dufan