tak ada yang lebih tabah
 dari hujan bulan juni
 dirahasiakannya rintik rindunya
 kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
 dari hujan bulan juni
 dihapusnya jejak-jejak kakinya
 yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
 dari hujan bulan juni
 dibiarkannya yang tak terucapkan
 diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono. 1989
(Hujan Bulan Juni – hal. 90)

Pagi pertama di bulan Juni ini diawali dengan rasa bahagia karena bisa mendengar suaranya. Suara dia yang akhir-akhir ini makin saya rindukan. Dia yang entah kenapa jadi rajin menyapa dalam mimpi. Iya, dia. Semalam saya menunggu telpon darinya. Tapi sayang, justru saya yang terlelap lebih dulu.

Seperti biasa. Suaranya begitu khas. Terdengar tegas tapi tetap terasa hangat. Saya bisa merasakan rasa sayang dan rindu terselip dari setiap kata-katanya. Bahkan rasa khawatir yang terkadang usil menghampiri pun seketika sembunyi karena malu mendengar suaranya.

Selama berbincang dengannya, entah kenapa bibir ini tidak berhenti menyimpulkan senyum. Selesai berbincang di telpon, dia masih sempat menyampaikan rasa rindunya dan memanggil saya cah ayu. Saya selalu suka dipanggil seperti itu olehnya. Entah kenapa.

Teruntuk dia yang membuat saya merasa bahwa bulan Juni akan baik-baik saja,

Tidak seperti hujan bulan Juni yang merahasiakan rindunya.
 Tidak seperti hujan bulan Juni yang mencoba mengapuskan rindunya.
 Tidak seperti hujan bulan Juni yang tidak mengucapkan rindunya.
 Tidak.
Aku bukan hujan bulan Juni.
 Aku tidak begitu tabah, bijak, dan arif untuk tidak menyampaikan ini padamu. 
 Aku rindu.