IMYA 2013: Belajar Bijak dengan Perbedaan.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang istimewa. Selain akal dan pikiran yang merupakan pembeda dari makhluk lainnya, manusia adalah makhluk yang unik. Unik karena berbagai perbedaannya yang ada pada dirinya. Setiap manusia memiliki keistimewaan, memiliki kelebihan, memiliki “keajaibannya” sendiri.
Kita semua hidup dan tumbuh dengan perbedaan. Indonesia misalnya. Beragam suku dengan bermacam-macam bahasa ada di negeri ini. Adat hingga keyakinan pun tidak sepenuhnya sama satu sama lain. Perbedaan yang ada itu bisa menjadi jembatan menuju perdamaian, namun, bisa juga menuju pertikaian. Tidak jarang perbedaan yang ada menjadi tembok pemisah atau bahkan menjadi alat pemecah persatuan dan kesatuan.
Beberapa hari yang lalu tepatnya Kamis (25/9), saya dan Fanya mengikuti kegiatan International Multifaith Youth Assembly 2013 (IMYA 2013) selama empat hari di Hotel Colonial, Makassar. Awalnya hanya iseng mencoba kegiatan baru, namun tidak disangka begitu banyak yang saya dapat di sini.
Peserta IMYA 2013 berjumlah 100 orang dengan lebih dari setengahnya berasal dari Indonesia. Namun tetap ada peserta dari negara lain, seperti Malaysia, Kamboja, Singapura, Pakistan, dan lainnya. Dengan bahasa yang berbeda, dengan keyakinan yang berbeda, kami belajar hal yang sama: perbedaan.
Di hari pertama kami semua mengikuti Welcoming Party. Belum ada yang saya kenal di hari pertama ini. Mungkin karena acaranya malam dan sedikit mengantuk. Hehehe… Nah mulai di hari kedua ini kami semua mendapatkan berbagai materi, mulai dari tentang Interfaith hingga Social Enterpreneurship (which is my favorite theme and speaker).
Bila ditanya di hari ke berapa IMYA menjadi sangat menyenangkan, saya akan jawab di hari ketiga ini. Kenapa? Karena di hari ketiga ini semua peserta berkesempatan mengunjungi enam rumah ibadah di Indonesia. Kapan lagi pergi ke gereja atau vihara menggunakan kerudung, atau dengan mata yang sipit dan masuk mesjid tanpa harus merasa asing? 🙂 Anyway, kami juga melakukan Interfaith Dialogue disetiap rumah ibadah. Benar-benar menyenangkan mengetahui ajaran setiap agama, bagaimana mereka beribadah, hingga bagaimana kehidupan sosial mereka ketika menjadi minoritas.
Dan waktu pun terasa berlalu begitu cepat di hari terakhir ini. Kami semua melakukan deklarasi perdamaian (yang dibuat sampai larut malam) serta flash mob di Celebes Convention Center (CCC), dan service project. Service project dilakukan tidak jauh dari CCC, tepatnya di Mariso. Mariso ini termasuk kawasan kumuh di Makassar. Ada banyak rumah susun dengan lingkungan yang tidak terawat di sini, sampah dimana-mana, dan juga anak-anak yang putus sekolah. Kami melakukan sedikit hal sederhana di sini, seperti membersihkan sampah yang ada, membantu para Ibu membersihkan rumahnya, atau sekedar bersenda gurau dengan anak-anak di sana.
After the service project, all of participants back to hotel. Then here is it, the part that a ‘lil bit I hate. Closing ceremony or it means, parting. Empat hari yang awalnya terasa lama menjadi begitu cepat. Banyak peserta yang rasanya masih ingin kegiatan ini berlangsung, termasuk saya. Bahkan saat penutupan selesai pun para peserta dan panitia masih asik mengobrol seolah-olah kegiatan IMYA 2013 ini belum ditutup. IMYA 2013 ini benar-benar menyenangkan. Met new friends, got new experience, had new perspective, took new knowledge, and so on.
Makasih buat semua peserta dan panitia. Kavitha, Anand, Jacob, and Hilman from Malaysia, Vicka from Cambodia, Zarif and his friends from Pakistan, Kak Mel, Kak Aini, Kak Risda, Kak Sindy, Kak Taris, Ilham, Kak Faiq, Kak Lubis, Kak Mugi, Kak Jusak, dan lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu. Nice to meet you guys. Seriously. And maybe, see you? 🙂
Dan melalui tulisan ini saya mengajak semua untuk melihat perbedaan yang ada dari sudut pandang yang lain. Cobalah menjadi bijak dengan berbagai keberagaman yang ada. Bila kedua hal itu bisa dilakukan, maka kita bisa saling mengenal lebih baik dan belajar banyak dari setiap perbedaan yang Tuhan ciptakan.
Mari mulai membangun kesadaran bersama akan pentingnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, mengajak untuk menjaga kehidupan yang damai ini tanpa adanya konflik yang mengatasnamakan perbedaan, apapun itu.
Pernyataan selanjutnya mungkin akan terdengar klise, namun marilah benar-benar melakukan hal-hal kecil tadi. Jangan tunda, ragu-ragu, ataupun menunggu orang lain untuk memulainya. Mulailah dari diri sendiri; mulailah dari hal-hal yang kecil; dan mulailah sekarang juga. Asal ada kemauan dan kemampuan, yakinlah bahwa apa yang “masih dipikirkan” bisa dilakukan.
Jangan pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada. Selama itu baik, perbedaan itu indah.
Enam agama. Enam rumah ibadah. Enam keunikan. Banyak perbedaan.
(Not really) All of the participants and committees of IMYA 2013. One Family Under God.
Kavitha (from Malaysia), Fanya, and me. Really different, right?
PS: Suddenly miss Kavitha. She’s so humble and nice. Wish I can meet with her again. Not just her, but with all of particpants & committee from IMYA 2013, of course.