Kehidupan dan Kebahagiaan
Pagi ini baru saja menyelesaikan buku The Geography of Bliss karangan Eric Weiner. Buku yang memecahkan rekor buku terlama yang saya baca. Saya mendapatkan buku ini dari Kak Hajir, salah seorang senior yang paling sering meminjamkan bahkan memberikan buku ke junior-juniornya. Bersamaan dengan Lia yang juga berulang tahun di bulan Februari, kami berdua mendapatkan buku dari Kak Hajir sebagai hadiah.
Eric Weiner adalah seorang jurnalis yang melakukan perjalanan ke beberapa negara untuk mencari tahu mengenai kebahagiaan. Satu hal yang abstrak dimana setiap orang memiliki penjelasan berbeda untuk menjelaskannya. Menurut saya sendiri agak mirip dengan angin. You can’t touch it but you can feel it.
Seperti yang dikatakan oleh salah satu peneliti kebahagiaan, John Helliwell, “Ada lebih dari satu jalan menuju kebahagiaan.”
Ya, tentu saja. Setiap orang yang bahagia pasti akan merasakan kebahagiaan dengan caranya sendiri-sendiri. Mungkin seperti anak-anak di depan rumah yang tertawa bahagia karena menyanyikan lagu Doraemon secara asal-asalan. Atau seperti saya yang masih bisa bermalas-malasan di tempat tidur pada pukul segini.
Agama Hindu memiliki keyakinan bahwa semua kehidupan adalah maya, ilusi. Dunia ini hanyalah sebatas panggung permainan. Ketika kita sadar akan hal itu, maka dunia akan serasa jauh lebih ringan. Cukup mainkan peran dengan baik dan sungguh-sungguh, maka kamu akan merasa bahagia. Kenapa? Ya karena kamu tahu ini semua hanya permainan. Semua kegagalan yang ada pun terasa seperti hal sepele dan akan membuatmu bergumam “Gak masalah. Saya akan coba lagi.”
Keyakinan tersebut sama dengan keyakinan agama saya. Islam mengajarkan untuk tidak terlalu memikirkan kehidupan duniawi, karena kehidupan sebenarnya adalah di akhirat nanti. Bagaikan jari yang dicelupkan ke dalam lautan, air yang ada di jari itu adalah dunia dan lautannya adalah akhirat.
Jangan terlalu banyak berpikir apakah kita bahagia atau tidak. Penulis Eric Hoffer pernah mengatakan, “Pencari kebahagiaan adalah salah satu sumber utama ketidakbahagiaan.” Tidak usah mengukur kebahagiaan. Cukup lihat dan syukuri apa yang tengah kita miliki, jalani hidup dengan bahagia dan tetaplah tersenyum.
Jadi jika ditanya apakah saya bahagia, saya akan menjawab iya. Iya saya bahagia. Tapi seperti Eric Weiner, saya masih belum bisa memastikan bahwa saya 100 persen bahagia. Setidaknya saya akan berusaha untuk lebih sering bersyukur dengan apa yang saya miliki dan tentunya, tetap tersenyum. 🙂