Kunjungan di Pagi Hari
Selamat pagi, teman. Maaf aku baru sempat mengunjungimu hari ini. Tidak, jangan salah sangka dulu, aku selalu memperhatikanmu. Biasanya aku yang mengetuk pintu itu, melihat keadaan di dalam lewat jendela, lalu pergi. Maafkan aku karena tidak sempat masuk. Tapi rasanya pagi ini aku punya cukup banyak waktu untuk berbagi kisah denganmu. Jadi biarkan aku masuk dan duduk di kursi favoritku itu ya?
Kenapa? Wajahku pucat? Ah. Ternyata kamu memperhatikanku juga. Aku tidak tahu sepucat apa wajahku sampai kamu menyadarinya. Tapi kamu benar. Aku memang sedang tidak enak badan beberapa hari ini. Suhu tubuhku agak hangat dan kepalaku pusing. Tidak masalah, mungkin ini hanya kelelahan. Tadi malam aku sudah meminum obatku. Dan kamu tahu? Karena obat itu aku tertidur dan tidak sempat mengucapkan selamat malam untuknya. Mengingatnya membuatku menjadi semakin tidak enak. Iya, kebiasaanku tertidur lebih dulu darinya memang sulit sekali hilang. Untunglah dia tidak pernah merajuk karena masalah itu. Hehehe…
Jadi apa yang kamu lakukan selama ini? Yah, ada banyak hal yang terjadi denganku. Tanggal 17 di bulan April lalu aku dan beberapa temanku pergi menikmati ciptaannya-Nya selama empat hari. Kali ini aku pergi ke lembah dari gunung Bawakaraeng, lembah Ramma’ namanya. Jangan. Jangan tanya bagaimana keindahannya, perkataanku tidak dapat menjawab itu, kamu harus datang ke sana untuk mendapatkan jawabannya. Tapi aku punya foto tempat itu, biar nanti aku perlihatkan padamu ya.
Buatku perjalanan ke lembah Ramma’ itu lebih berat dari pergi ke gunung Bulusaraung. Mungkin karena jaraknya yang lebih jauh dan satu turunan bernama Talung yang terjal itu. Jangan tanyakan berapa kali aku terjatuh, aku bahkan tidak mampu mengingatnya. Tapi lagi-lagi, semua keluhan soal perjalanan itu hilang, tergantikan dengan apa yang ada di lembah Ramma’. Kamu harus ke sana, teman.
Sepulang dari Ramma’ itu pun aku tidak sempat mengunjungimu. Maafkan aku ya. Aku tengah membantu teman-temanku di pelatihan fotografi. Dan setelah itu, aku disibukkan dengan persiapan pelatihan jurnalistik, Timelines 2014. Mulai dari pencarian dana, hingga pra-Timelines yang sangat padat. Aku tidak mengenal hari libur saat ini. Dalam bulan ini, sudah dua kali aku dan teman-temanku pergi ke Pantai Losari di pagi hari untuk mencari dana dan setelah itu kembali ke kampus untuk pra. Setelah pulang kuliah pun aku masih belum bisa pulang karena harus kembali mempersiapkan kegiatan itu. Lelah? Kalau mengeluh itu baik, aku akan jawab iya. Sayangnya mengeluh di pagi hari itu sangat tidak baik, jadi aku akan menjawab tidak terlalu (walaupun aku tahu itu jawaban yang sangat klise).
Apa lagi? Pertanyaanmu seperti meledekku, teman. Tapi kamu benar, memang masih ada lagi selain persiapan Timelines. Saat ini aku juga tengah membantu temanku mempersiapkan Indie Movie Class. Dan… Jangan kaget ya. Janji? Setelah mengikuti Diksar Liga Film Mahasiswa Unhas, aku juga tengah (dan harus) mempersiapkan produksi film. Dan jangan kaget lagi. Aku kembali ditunjuk (secara paksa) menjadi sutradara. Padahal awalnya aku menjadi script writer. Iya, aku (harus) double job di produksi kali ini. Biarkan aku menarik nafas panjang sebentar ya. Tidak, aku tidak kenapa-kenapa. Yah, kau tahu, hanya merasa ada banyak beban di pundak ini. Aku suka kok. Harus aku akui aku suka dengan semua yang aku lakukan ini, tapi bolehkan aku mengunjungimu dan mengatakan aku lelah?
Iya masih ada, teman, masih ada. Seperti yang kamu tahu, minggu depan kampusku sudah memasuki minggu UAS, jadi tugasku pun seketika menumpuk. Mulai dari observasi, membuat proposal (yang sampai saat ini belum aku sentuh), mencari foto, hingga persiapan pameran. Iya minggu ini aku dan teman-temanku akan melakukan pameran sebagai tugas akhir mata kuliah dasar fotografi. Dan minggu depannya Timelines 2014 pun dilaksanakan. Dan di minggu UAS nanti, aku harus membaginya dengan jadwal take gambar film liga. Dan persiapan IMC, dan………aku mau pulang, teman. Aku rindu rumah. Aku rindu dia.
Terima kasih, teman. Aku tidak butuh tissue, aku sedang tidak menangis tahu. Aku hanya rindu. Terkadang aku merasa ragaku di sini, tapi tidak dengan jiwaku. Yah, aku masih harus bersabar beberapa minggu sampai aku bisa pulang dan memberikan rindu itu padanya.
Ah, ternyata sudah cukup lama aku bercerita denganmu. Apa tidak ada yang ingin kamu ceritakan padaku, teman? Yakin? Baiklah bila tidak ada. Mungkin aku akan mengakhiri kunjunganku pagi ini. Terima kasih sudah menjadi pendengar baikku dan terima kasih juga untuk segelas teh hangatnya. Pasti. Aku pasti akan datang lagi, jadi tenang saja ya. Ah aku hampir lupa, ini foto-foto saat aku di lembah Ramma’, simpan saja dulu di sini, oke? Sampai jumpa, teman.
Ini anggota geng masak saat di Ramma’. Rasanya kami lebih sering di dapur daripada di tenda, teman.


