Little Things that I’ll Miss
Seperti biasa, hujan kembali turun siang ini. Seketika udara hangat tadi berganti menjadi sejuk. Saya yang tengah berbaring langsung merubah posisi menjadi duduk menghadap jendela. Memandangi hujan turun selalu menyenangkan bagi saya. Mungkin karena saya terlalu suka dengan hujan.
Tanpa disadari, hari ini tepat satu bulan saya menghabiskan masa liburan semester di Cibinong, Bogor. Setelah beberapa bulan berkutat dengan rutinitas kuliah di Makassar, saya kembali pulang ke rumah.
Rasanya sedikit berbeda ketika kembali ke rumah. Meja belajar serta rak-rak yang biasanya penuh dengan berbagai buku, terlihat begitu kosong. Lemari baju yang biasa saya gunakan juga ternyata telah pindah ke kamar kak Indra. Kamar saya terasa (sedikit) hampa.
Semakin masuk ke dalam, saya semakin merasakan perbedaan rumah ini. Ummi yang biasanya membuat suasana rumah ramai, tidak ada. Ya, beberapa bulan yang lalu beliau telah resmi dipindah-tugaskan di Makassar. Si bungsu Kupu juga ikut Ummi. Jadilah yang di dalam rumah ini para lelaki.
Lucunya, sebelum pergi ke Makassar, Ummi menuliskan pesan untuk Abah, Kak Indra, Ari, Sadam, bahkan Bibi yang biasa membantu di rumah. Pesannya begitu sederhana & lucu buat saya. Kertas berisikan pesan itu ditempel Ummi agar mereka selalu ingat dengan hal-hal sepele yang biasanya Ummi katakan… 🙂
Walaupun terasa sedikit sepi karena Ummi dan Kupu tidak ada, rasanya tetap nyaman berada di rumah sendiri. Berbaring sambil menonton TV, bercanda dengan Kak Indra, Sadam, dan Ari, memandangi orang-orang yang berjalan depan rumah lewat jendela kamar, hingga bermalas-malasan di kamar. Hehehe…
Satu hal yang paling saya rindukan ketika tidak di rumah ini adalah diskusi-diskusi kecil saya dengan Abah. Kami memang terbiasa berdiskusi tentang apapun. Berbeda dengan Ummi yang begitu meledak-ledak ketika menyampaikan sesuatu, Abah begitu tenang namun lugas menyampaikan pendapatnya. Baru beberapa jam tiba di rumah, saya langsung asik berdiskusi dengan Abah tentang dunia kampus.
Tanggal 29 nanti saya harus kembali ke Makassar. Satu bulan berada kembali di rumah, tentu masih terasa begitu kurang untuk saya. Tapi inilah konsekuensi yang harus saya ambil karena memilih kampus yang jauh dari rumah. Setidaknya karena jarak yang jauh ini, saya semakin menghargai hal-hal kecil yang saya habiskan bersama mereka.
Nah. Jika kalian masih tinggal bersama dengan keluarga kalian, tidak ada salahnya menghabiskan hari bersama adik atau kakak. Terkadang dibanding dengan teman, bercerita dengan ayah atau ibu tentang hari yang telah dilewati, jauuuuh lebih menyenangkan. Dan kelak ketika kalian jauh dari mereka, kalian akan merindukan hal tersebut. Just like me. 🙂
Dari kiri ke kanan: Abah, Kak Indra, Ari, dan Sadam.
Empat kepala, empat kepribadian, satu rumah.
(Kayaknya bisa dibuat boyband :p)