Sampai Bertemu Lagi, Ramadhan!
Sejak sore tadi Cibinong diguyur hujan deras. Matahari pun pulang lebih cepat dari biasanya. Teriknya lantas tergantikan dengan hawa sejuk dan dingin. Mungkin Allah tengah ‘membersihkan’ bumi-Nya sebelum hari kemenangan umat-Nya tiba.
Puasa terakhir di bulan Ramadhan ini lebih banyak saya habiskan di dapur. Mulai dari membuat ketupat hingga menyiapkan Coto Makassar untuk esok hari. Agaknya peran upik abu ini semakin baik saya mainkan, apalagi sejak bibi yang membantu di rumah sudah mulai libur.
Bulan Ramadhan memang selalu penuh dengan cerita dan pelajaran. Begitu pun dengan Ramadhan tahun ini. Untuk pertama kalinya saya merasakan nikmatnya Ramadhan. Nikmat lahir dan batin. Mungkin sedikit klise, tapi itulah yang saya rasakan.
Ramadhan tahun ini membuat saya semakin mengerti betapa hebatnya Ummi. Hampir dua minggu saya menggantikan Ummi menyiapkan segalanya karena beliau harus kembali ke Makassar untuk bekerja. Jadilah saya harus bangun lebih dulu dari yang lain untuk masak sahur dan merelakan jam istirahat untuk mempersiapkan buka puasa. Memang agak melelahkan, tapi ini juga menyenangkan. Setidaknya saya menjadi sering praktik memasak. Hehehe…
Ramadhan tahun ini pun serasa lebih manis karena ditutup dengan khatam Al-Quran dan shalat tarawih yang jauh lebih lengkap dari Ramadhan sebelumnya. Alhamdulillah. Setidaknya intensitas saya bertemu dengan-Nya juga menjadi lebih sering dari biasanya dan saya sungguh menyukai hal tersebut.
Namun terlepas dari semua itu, satu hal yang paling membuat saya bahagia dengan Ramadhan tahun ini adalah masih bisa menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan keluarga yang lengkap. Iya, dengan Abah, Ummi, kak Indra, Ari, Sadam, dan Kupu.
Mengutip tweet kak Dian Pelangi siang tadi, “Yang pertama meminta maaf itu yang paling berani, yang pertama memaafkan itu yang paling kuat, dan yang pertama melupakan itu yang paling bahagia.” Maka izinkanlah saya menjadi ketiga hal tersebut sekaligus.
Taqobbalallahu minna wa minkum. Selamat hari kemenangan! Selamat lebaran! Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H! Sampai bertemu lagi, Ramadhan!
NB: Satu hal yang agak kurang di Ramadhan tahun ini adalah tidak adanya kue putri salju buatan Nenek Mami’ (Ibunya Abah). Sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa membuat kue putri salju seenak buatan nenek. Bahkan Ummi pun tidak bisa.