Entah hari ini telah memasuki hari ke-berapa puasa. Saya memang terbiasa tidak menghitungnya agar tidak terasa lama. Tapi rasanya tersisa sedikit lagi dan hari kemenangan pun akan tiba. Well, time flies so fast, isn’t it?

Ah iya, Jumat lalu (26/7), saya menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman SMP, dengan anak Pramuka lebih tepatnya. Kebetulan ada undangan buka puasa bersama dari anak-anak Pramuka SMPN 2 Cibinong (re: Doea). Angkatan saya memang tidak pernah absen dari kegiatan rutin ini. Bisa dibilang ini acara yang wajib dihadiri. Walaupun saat di sana bisa jadi angkatan paling tua. Hehehe…

Baru tiba di depan gerbang Doea, suara teman-teman saya sudah terdengar jelas, padahal baru ada Ray, Doni, Vito, dan Renardhi. Kedatangan saya, Adel, dan Adhien pun membuat suasana semakin riuh. Kami pun mulai asik bercerita (dan mencela) seperti biasa. Lagi-lagi mereka tidak banyak berubah. Oh, kecuali satu. Mereka semua tambah tinggi (except me, of course:|). Tidak lama kemudian yang lain datang. Mulai dari Zaki, Alghi, lalu Nde’, Ucup, dan Inal yang datang setelah Maghrib. Angkatan saya pun menjadi yang paling berisik.

Selain bertemu dengan teman satu angkatan, saya pun bertemu dengan satu angkatan di atas dan beberapa angkatan di bawah saya. Nah seperti yang saya bilang sebelumnya, angkatan saya bisa jadi angkatan yang paling tua bila datang di acara seperti ini. Untungnya angkatan di atas saya datang, jadilah kami terbebas dari label yang paling tua. Tapi tetep aja sih. Gak beda tipis-_-

Selain bertemu dan saling menyapa senior dan junior, kami juga bertemu dengan pembina Pramuka yang biasa kami panggil “Enyak”. Dan seperti biasa, Enyak mengomentari kami semua. Dan lagi-lagi, seperti biasa, Enyak hanya bilang saya yang tidak berubah. (Udah biasa, udah biasa. Dari dulu saya udah biasa diginiin kok).

Setelah ngobrol sana-sini, kami yang berpendapat belum makan bila belum makan nasi pun memutuskan untuk lanjut makan di pecel depan sekolah. Pecel ini bisa dibilang langganan anak Pramuka. Dulu, bila ada acara menginap di sekolah (Persami, STJ, dll), kami akan memilih ini untuk makan malam. Sayangnya saat tiba di sana, penjualnya bilang sudah habis-_- Akhirnya kami pergi ke McD yang juga tidak jauh dari sekolah.

Tiba di sana kami kembali bercerita dan kembali menjadi yang paling berisik. Semua hal kami ceritakan. Mulai dari mengingat saat Pramuka dulu, hal-hal yang bila diingat sekarang rasanya begitu bodoh, hingga ledekan-ledekan yang tidak pernah basi untuk dilontarkan.

Sekitar pukul 11.30 WIB, Fajar yang baru tiba dari Cilegon pun datang dan menambah keriuhan suasana. Suasana seperti ini lantas mengingatkan saya dan teman-teman dengan suasana di Sanggar Pramuka atau yang akrab kami sebut markas. Hampir setiap hari kami berkumpul di sana. Bercerita, tidur, rapat, atau sekedar menghabiskan waktu sambil main kartu diam-diam. Dan ketika matahari ingin kembali bersembunyi, penjaga sekolah akan mampir ke markas dan “mengusir” kami. Hehehe… Bagi kami semua, markas adalah rumah kedua kami.

Waktu pun berlalu begitu cepat. Tidak terasa lebih dari empat jam kami berkumpul. Bertemu dengan mereka memang tidak pernah terasa membosankan. Tidak pernah sama sekali. Kami selalu punya cerita lama untuk dikenang dan cerita baru untuk dibagi.

Terimakasih untuk obrolan tidak ingat waktunya, ketawa-ketiwinya, temu kangennya, dan cerita yang itu-itu ajanya. Semoga selalu bisa berkumpul seperti ini.

DSC_0085 Pramuka angkatan 2008/2009 (minus Fajar yang belum tiba dan beberapa yang tidak bisa hadir).