Badannya memang tidak terlalu besar, tapi begitu tegap. Mungkin karena dia pernah ikut Karate hingga sabuk hitam. Bila bertemu dengannya pertama kali, rasa canggung atau bahkan takut yang akan dirasakan. Tidak heran, wajahnya memang selalu terlihat begitu serius.

Dia tidak begitu banyak bicara, namun bukan juga sosok yang pendiam. Mungkin karena inilah beberapa orang sering salah paham tehadapnya. Suaranya memang tidak terlalu bagus bila bernyanyi, namun jangan ragukan saat dia tengah membaca Al-Quran. Begitu merdu dan lembut.

Dia adalah sosok yang sangat aku kagumi. Dulu, sekarang, bahkan nanti. Aku memanggilnya Abah.

Begitu banyak hal yang selalu aku ingat darinya. Beliau tidak terlalu suka pergi jalan-jalan. Bila hari Sabtu atau Minggu datang, dia akan pergi bermain badminton dengan raket kesayangannya pagi-pagi sekali. Bila ada waktu senggang, Abah biasa merapihkan taman depan rumah, mulai dari mencabut rumput yang liar, hingga menebang pohon mangga yang semakin lebat. Dalam satu minggu, dia bisa mencuci mobil hingga lima kali =)))

Teh manis panas adalah favoritnya. Dia suka sekali dengan teh buatanku. Kalau aku ada di rumah, Abah bisa memintaku membuatkannya teh lebih dari empat kali. Bila membeli martabak, Abah akan selalu memesan martabak kombinasi. Walaupun lauknya bukan rendang, Abah akan selalu meminta bumbu rendang bila membeli nasi padang.

Abah tidak pernah memanjakan anaknya. Bila ada sesuatu yang kami inginkan, maka kami harus menyiapkan argumentasi yang jelas kenapa hal itu harus Abah berikan. Tulisan Abah begitu rapih, bisa dibilang sebelas-duabelas dengan font di komputer. Dia bahkan pintar menggambar, dia sering membantuku menyelesaikan tugas menggambar. Terkadang Abah bisa jail. Dia suka sekali berbaring di tempat tidur yang baru saja aku rapihkan.

Abah selalu memperkenalkanku pada hal-hal yang baru. Dia yang pertama kali memberitahuku bahwa coretan pensil yang tebal bisa membuat bayangan yang bagus pada sketsa gambar. Dia juga memberitahuku bagaimana menyelesaikan soal Matematika menjadi lebih mudah. Bahkan dialah yang memperkenalkanku dengan buku yang bagus, penulis, penyair, hingga aktivis hebat.

Salah satu hobiku adalah berdiskusi dengannya. Sungguh, begitu banyak yang aku dapat dari hasil diskusi dengan Abah. Kami bisa tahan hingga berjam-jam hanya untuk mendiskusikan suatu hal. Aku paling suka bila dia bercerita pengalamannya ketika dia mahasiswa.

Layaknya seorang kepala keluarga seharusnya, Abah selalu satu langkah di depan keluarganya. Dia akan berfikir jauh ke depan dibanding kami semua.

Selamat ulang tahun Abah. Semoga sehat selalu dan selalu dalam lindung serta rahmat-Nya. Amin.
Salam sayang, Ima.

AbahSeperti yang kubilang, wajahnya memang terlalu serius.