Beberapa bulan belakangan ini saya aktif di Program Sekolah Media Literasi (SMILE). Dikegiatan ini, saya dan teman-teman menyampaikan literasi media kepada adik-adik kelas 4-6 SD. Tidak hanya itu, kami juga berkesempatan mengajar dan menemani mereka bermain apa pun. SMILE diadakan rutin setiap hari Rabu di SDN Lakkang.

Banyak hal yang baru saya lakukan untuk pertama kalinya ketika mengikuti kegiatan ini. Kampus Unhas yang saya kira hanya “segitu” ternyata masih memiliki banyak tempat yang belum saya tahu. SDN Lakkang tidak jauh dari kampus saya. Untuk mencapai sekolah ini kita harus menyebrangi sungai menggunakan “perahu” ala kadarnya (re: ketinting/getek). Waktu yang ditempuh tidak terlalu lama, cukup 15 menit dan kita tiba di Desa Lakkang.

Dan seperti biasa, Rabu (12/3) saya, Kak Ayu, Ainun, Icha, Rasti, dan Kak Oji kembali berkunjung ke SDN Lakkang. Tiba di tempat penyebrangan, perahu masih belum ada. Kami pun dengan sabar menunggu. Ini kali pertama kami merasa begitu lama menunggu perahu. Dan ketika perahu itu datang, kami masih tetap harus kembali menunggu. Hari itu untuk pertama kalinya kami benar-benar merasa datang begitu terlambat.

Lima belas menit berlalu, perahu pun akan menepi. Dari jauh kami melihat beberapa anak-anak melambaikan tangannya di tempat penyebrangan. Mata kami belum terlalu awas untuk menyadari siapa anak-anak itu. Ketika perahu semakin dekat, kami pun kaget, karena anak-anak itu adalah adik-adik kami dari SDN Lakkang. Masih dengan melambaikan tangannya mereka tersenyum.

“Kak, kenapa lama sekali ki’? Tiga kalima pulang balik ini dari sekolah ke sini,” ujar salah satu adik dengan wajah riangnya.
Kami kembali kaget. Ini pertama kalinya adik-adik itu menunggu kami di tempat penyebrangan, bahkan hingga tiga kali bolak-balik dari sekolah ke penyebrangan.
“Adami temanku yang pulang kak. Tapi satu ji’.”
Kami hanya bisa tersenyum sambil meminta maaf dan menjelaskan keterlambatan kami.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah adik-adik itu tidak berhenti berbicara. Sambil menggandeng tangan kami bibir mereka tidak berhenti bertanya kenapa kami datang terlambat. Alfarian, adik yang saya kenal bahkan bertanya kenapa minggu lalu saya tidak datang. Saya pun tersenyum dan menjelaskan bahwa ketidakhadiran saya minggu lalu karena harus ke Palopo.
“Saya tunggu ki’ kemarin kak, tapi kita nda’ datang. Kita bawa ji’?” tanyanya sedikit berbisik.
Saya pun mengangguk sambil menutupi bibir saya dengan satu jari. Alfarian tertawa.

Dua minggu lalu saya memang berjanji kepada Alfarian dan beberapa temannya untuk membawa sedikit hadiah untuk mereka. Namun karena minggu lalu saya tidak hadir, janji itu pun baru bisa ditepati hari ini.

Sekolah pun tinggal 10 meter, sayup-sayup suara adik-adik di dalam kelas terdengar. Mereka berteriak memanggil kami.
“Kak Ayu… Kak Ai… Kak Ima…”
Kami melambaikan tangan. Beberapa adik yang terlihat di dalam kelas tiba-tiba berlarian keluar menyambut kami.

“Kakak kenapa lama sekali ki’?”
“Saya kira kita nda’ datang kak.”
“Hore… Kakak-kakak datang…”
Itulah beberapa celotehan riang yang saya dengar dari bibir mereka. Ah. Mengingat ini pun saya tidak berhenti tersenyum.

Dengan cepat mereka masuk kelas dan duduk dengan rapih. Beberapa berteriak senang karena kehadiran kami. Kak Ayu pun mewakili kami meminta maaf karena membuat mereka menunggu hampir dua jam lamanya.
“Nda’ apaji’ kak. Main-main jeki’ juga tadi di sini,” ujar salah satu dari mereka.
Kami tidak tahu harus melakukan apa selain tersenyum. Betapa kalian juga banyak mengajari kami hal-hal sederhana, Dik.

Kelas pun dimulai, walaupun tidak seefektif biasanya karena waktu mereka pulang telah tiba. Saat hendak menutup kelas, beberapa adik menolak. “Kenapa cepat sekali kak?” tanya mereka.
Dengan tidak enak Kak Ayu menjawab bahwa mereka pasti lelah dan harus istirahat.
“Nda’ ji’ kak. Ayokmi lanjut lagi…..”
Saya hanya bisa saling bertukar pandang dengan teman-teman sambil tersenyum. Kak Ayu pun kembali menjelaskan dan meminta maaf karena kelas begitu cepat berakhir. Dengan raut wajah yang sedikit tidak rela, mereka pun akhirnya setuju untuk mengakhiri kelas.

Setelah kelas berakhir mereka berkata kepada kami agar kembali lagi Rabu nanti. Mereka benar-benar tidak berhenti membuat kami tersenyum. Beberapa dari mereka bahkan kembali mengantar kami ke tempat penyebrangan.

Ah. Sungguh, Dik. Betapa menyenangkannya menjadi kalian. Begitu sederhana, begitu bahagia.
Terima kasih. Terima kasih karena telah menunggu, menemani, mengantar, dan membuat kami belajar. Terima kasih SMILE, terima kasih buat kalian, teman-teman. Tanpa adanya es krim topjer saat pulang pun, hari itu akan tetap manis.