Tanggung Jawab, Ma.
“Kasih bersih itue sarang laba-laba yang ada di web-mu, Ima,” sindir Ayuni.
Saya pun hanya bisa tersenyum masam.
Halo! Lama tidak berceloteh di sini. Waktu semakin terasa begitu cepat berlalu, seperti biasa. Waktu juga tidak pernah berhenti membuat berbagai cerita dan pelajaran yang tidak pernah berhenti datang dan silih berganti.
Tepat 27 Februari lalu saya resmi berumur 20 tahun. Hell yeah. Angka satu yang biasa bertahan di depan itu pun harus rela tersingkirkan oleh angka dua. Saya pun merasa tua seketika. Sampai hari ini masih belum rela menyandang umur 20. Apalagi bila mengingat hingga hari ini saya belum banyak melakukan hal yang bermanfaat. Ya, baik untuk diri sendiri atau pun orang di sekitar.
Sigh.
Beberapa waktu lalu obrolan saya di telpon dengan Preschian “agak” serius. Saya mengeluh dengan rutinitas yang akhir-akhir ini membuat saya bosan.
“Mungkin karena kamu masih belum tahu mau apa. Kamu mau apa sih?” tanyanya.
Lagi-lagi pertanyaan itu.
Saya pun hanya bisa diam. Merutuki diri sendiri yang hanya bisa mengeluh.
Preschian benar. Saya masih belum tahu mau apa. I mean, saya mantap di jalan ini, saya yakin. Namun entah mengapa jalan yang saya tempuh ini terasa begitu datar. Seperti berjalan di jalanan yang lurus. Ah. Kejenuhan lagi-lagi datang menghampiriku.
Setelah percakapan itu, saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Kembali memberi kesadaran pada diri untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah dipilih. Tidak ada jalan kembali. Pilihan satu-satunya adalah melanjutkan perjalanan ini. Menghadapi apa pun yang hadir, walaupun itu sebuah perasaan sesepele kejenuhan.
Face the reality, Ma.
Saya tahu kamu suka dengan berbagai pilihan yang kamu ambil. Saya yakin kamu pun tahu itu.