Terima kasih ya, Dik.
Akhir-akhir ini Makassar sering dikunjungi oleh hujan. Mulai dari yang intesitasnya rendah hingga tinggi. Genangan air pun menjadi akibat dari hujan yang turun hampir setiap hari ini. Termasuk rumah nenek yang masih rendah dibanding jalan rayanya. Jadi selama beberapa akhir ini juga saya memiliki olahraga baru, yaitu menguras air dan mengepel. 🙂
Untuk sebagian orang, hujan adalah hal yang sangat mengesalkan. Namun tidak bagi mereka yang mencari rezeki saat hujan turun. Ketika beberapa orang menggerutu kebasahan, mereka tersenyum bahagia. Ketika beberapa orang berlari agar tidak kehujanan, mereka berjalan dengan santai sambil tertawa. Dan ketika orang lain menyesal tidak membawa payung, mereka justru tidak menggunakan payung yang ada di tangannya dan malah menawarkannya pada orang lain. Ya, mereka adalah anak-anak yang bekerja sebagai ojek payung.
Tepat hari Kamis, 21 Februari 2013, saya yang sudah ada di dalam angkot menuju rumah, tiba-tiba ditelpon Ummi. Beliau meminta saya menunggu di suatu tempat agar pulang bersamanya yang naik taksi. Akhirnya saya pun memutuskan untuk turun di depan Makassar Town Square (Mtos) yang paling dekat dengan posisi angkot yang saya naiki. Saya pun turun dan menunggu di halte. Namun hujan yang makin deras ditambah angin kencang memaksa saya untuk meneduh ke dalam Mtos. Saat meneduh inilah saya memperhatikan anak-anak tersebut.
Wajah mereka tidak sedikit pun melukiskan keletihan. Mereka justru asik bergurau dengan teman-temannya yang lain sambil menawarkan payung dengan senyum tulusnya. Kadang mereka harus berebut dengan yang lain agar payungnya yang digunakan. Ketika payungnya yang digunakan, anak itu asik meledek temannya yang tidak dapat, namun teman anak tersebut tidak marah, mereka justru asik tertawa.
Tidak terasa saya ikut tertawa dan tersenyum haru melihat tingkah laku anak-anak itu. Bahagia rasanya melihat mereka yang mungkin tidak mengerti bahwa di luar sana, banyak sekali yang mengaku lebih dewasa dari mereka tapi malah asik sikut-menyikut satu sama lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Mata saya tidak bisa terlepas dari seorang anak laki-laki berumur sekitar 4-5 tahun yang menggunakan payung berwarna merah muda. Rasanya, dia masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan yang mungkin bisa membuatnya sakit. Tapi lagi-lagi, wajahnya juga tidak melukiskan keletihan. Ia tetap tertawa bahagia layaknya anak-anak lain saat diperbolehkan ibunya bermain hujan-hujanan. Saya pun berusaha agar kamera handphone yang rusak ini bisa digunakan untuk memotretnya, dan Alhamdulillah itu berhasil! 🙂
Sebelumnya di hari yang sama, di kampus saat siang hari, saya mampir di Mace, kantin favorit anak Kosmik untuk menunggu mata kuliah selanjutnya dimulai. Sambil meminum teh hangat yang sudah dipesan, saya mendengarkan beberapa senior berdiskusi mengenai beberapa hal. Satu hal yang saya ingat dari diskusi itu adalah tanggung jawab sosial sebagai mahasiswa yang beruntung mengenyam pendidikan di universitas negeri.
Mahasiswa-mahasiswa yang kuliah di universitas negeri memang sangat beruntung. Mereka membayar SPP dengan murah karena telah disubsidi pemerintah. Termasuk saya. Kuliah di Universitas Hasanuddin dan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi (non-eksak), membuat saya hanya harus membayar Rp 450.000 setiap semesternya. Bahkan SPP saya saat di SMA swasta jauh lebih mahal dari ini.
Ya, harusnya kami semua harus jauh lebih peka terhadap masalah sosial seperti ini. Menyadari karena merekalah kami bisa duduk di bangku kuliah dengan membayar SPP dengan murah. Menyadari bahwa kami memiliki tanggung jawab besar untuk membela rakyat kecil seperti anak-anak yang bekerja sebagai ojek payung ini. Menyadari bahwa kami harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang menjerumus ke sifat kapitalis dan hedonis. Ya, harusnya kami, termasuk saya, menyadari itu.
Jadi teringat dengan tweet setahun yang lalu dari seorang teman SD yang mengikuti akselerasi dan masuk kuliah terlebih dulu. Saat itu ia mengajak seorang anak untuk makan, namun anak terebut menolak dan lebih memilih uangnya untuk tabungan agar bisa sekolah. Saya pun membalas tweet dengan ucapan haru, ia kemudian kembali membalas dan mengatakan kitalah, para mahasiswa, yang bisa membantu mereka. Saya menjawab, kelak, saya akan membantu mereka. Someday… just wait me.
PS: Kepada kalian adik-adik yang bekerja sebagai ojek payung di depan Mtos. Terima kasih karena telah memberitahukan padaku bahwa seharusnya aku harus jauh lebih bersyukur atas berbagai nikmat yang Allah berikan…

